Worshop Persiapan Pendirian Sekolah Vokasi

Fakultas Sains dan Teknologi mengadakan Workshop Vokasi pada 16 Desember 2021, sebagaimana dalam sambutan Ibu Dekan Dr. Dra. Hj. Khurul Wardati, M.Si. bahwa FST akan mengembangkan vokasi dan magister. Dibutuhkan persiapan yang matang karena pendirian prodi umum di bawah Kemenag harus seizin Kemenristekdikti. FST sudah memiiki SDM serta fasilitas lab terkait halal industry sehingga siap untuk mendirikan vokasi halal berdasarkan nomenklatur: Kemenag 2012 dan Kemenristek tahun 2017.
Prof. Dr. Iswandi Syahputra, S.Ag., M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik Dan Pengembangan Lembaga, dalam sambutannya menyampaikan tema vokasi yang dibuka oleh Kemenag: food, fashion, tourism. Masih menjadi diskusi terkait tema yang akan diambil oleh FST apakah makanan halal ataukah industry halal.
Dr. Ing. Ir. Agus Maryono (Dekan Sekolah Vokasi UGM) sebagai narasumber pada acara workshop ini menyampaikan, vokasi apabila masih menginduk pada fakultas terkadang kelemahannya adalah kurang dapat berkembang, sehingga UGM memilih untuk memiliki sekolah sendiri. Sekolah Vokasi UGM sejak 2009 mandiri menjadi fakultas, kemajuan dirasa lebih cepat karena memiliki struktur tersendiri.
Apabila Sekolah Vokasi akan mendirikan prodi baru, harus memperoleh dukungan dari fakultas terkait. Bentuk dukungan tersebut adalah senat fakultas menentukan kelayakan dan kesesuaiannya terlebih dahulu. Tahun 2017 prodi D3 dihapuskan, sehingga semua harus naik menjadi D4. Hal ini berarti harus membuat prodi baru, karena tidak bisa D3 ditambah 1 tahun. Info terkait peningkatan D3 ke D4 dapat dilihat lebih lanjut pada Dirjen Vokasi. Tahun 2022 semua D3 di UGM sudah habis, sehingga hanya ada program D4 sejumlah 21 prodi.
Bentuk perkuliahan pada Sekolah Vokasi adalah 5 semester di kampus, 3 semester di industri(4, 7 dan 8). Hal ini setali 3 uang karena MBKM juga dapat. Semester 4 mahasiswa ke lapangan agar ada pemaparan dini terhadap dunia industri. Perlu juga adanya dosen magang, sehingga dosen harus dimagangkan melalui post doc. Perlu adanya kesatuan antara dosen dan mahasiswa, salah satunya dengan cara menjadikan mahasiswa sebagai asisten bagi semua dosen, sehingga semua mahasiswa memiliki produk ketika lulus.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. menyampaikan bahwa mapping prodi membutuhkan waktu lama karena harus ada pertimbangan dan akar yang kuat, maka harus dipastikan user dan existing dari prodi sudah siap. Selain itu ketersediaan dosen harus memiliki kemampuan dan sesuai untuk mengajar di vokasi, sehingga dosen yang sesuai harus segera mengikuti program insinyur. Hal terpenting lainnya yang harus disiapkan adalah naskah akademik, latar belakang didirikannya program vokasi, mapping, ketersediaan SDM, dan benchmark. [hkn]