Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains Ke-5
Pada Selasa 4 Oktober 2022, Fakultas Sains dan Teknologi menyelenggarakan Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains Ke-5 Tahun 2022. Acara dimulai dengan sambutan Dr. Ir. Ira Setyaningsih, S.T., M.Sc, IPM, ASEAN Eng. selaku ketua, Dr. Arifah Khusnuryani, S.Si., M.Si. selaku Wakil Dekan2Fakultas Sains dan Teknologi, dan Prof. Dr. Phil Sahiron. MA. selaku Wakil Rektor Bidang 2. Acara inti (Plenary Session) menghadirkan Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc., Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D., dan Dr. Nita Handayani, S.Si, M.Si.
Ibu Lela Susilawati, S.Pd., M.Si., PhD. selaku moderator menyampaikan bahwa saat ini banyak berbagai hal yang tidak lepas dari sains. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mengintegrasikan antara sains dan agama. Pada dasarnya sains adalah ilmu pengetahuan atau fenomena-fenomena alam dan sedangkan agama adalah petunjuk kehidupan yang dipercaya oleh pemeluknya. Dengan adanya upaya mengintegrasikan dan menginterkoneksikan antara sains dengan agama, harapannya dapat memperkuat iman dan juga keyakinan demi kehidupan yang lebih bermakna
Selanjutnya Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, MSc. Memaparkan bahwa pandemi menjadi salah satu momen kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Mengingat bahwasanya terjadinya pandemi ini disebabkan oleh adanya virus yang kita anggap primitif dan merupakan makhluk kecil namun dapat mengubah dunia dalam sekejap. Dan dalam perkembangannya manusia dapat membuat vaksin sebagai bentuk upaya untuk mengembalikan keadaan dunia menjadi normal kembali.Dari sini kita lihat begitu besar peran sains dalam mengubah dunia.
Dalam penerapan perkembangannya ada sebuah terobosan baru dalam dunia sains medis. Bayi yang dihasilkan dari tiga orang parental atau orang tua. Yang mana dihasilkan dari dua orang ibu dan satu orang ayah. Pada dasarnya adalah bagaimana merekayasa 2 sel telur dari ibu yang berbeda. Dan latar masalah utamanya adalah ada seorang ibu yang mengalami kelainan salah satu organel sel mitokondria pada sel telur yang yang jika nantinya akan dilahirkan seorang bayi maka bayi tersebut akan mengalami kelainan dalam metabolisme untuk memperoleh energi. Sehingga diperlukan pendonor sel dari ibu lain untuk memperoleh sel telur yang sempurna.Sehingga dari kasus ini menimbulkan pertanyaan besar yaitu siapakah ibu yang sebenarnya?
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar kita selalu melibatkan penerapan dari sains sains dan teknologi. Sebagai contoh kita menciptakan mobil yang dapat digerakkan tanpa menggunakan sopir. Dan dalam hal tersebut kita memasukkan sistem algoritma pada mobil. Yang mana algoritma tersebut berisi perintah-perintah kepada mobil sehingga kedepannya mobil itu yang diminta untuk membuat sebuah keputusan sesuai dengan algoritma yang kita beri. Dari sini timbul pertanyaan jadi sebenarnya apakah sains dan teknologi dapat menentukan takdir manusia itu sendiri?
Untuk ke depannya sains diprediksi akan semakin maju namun kenyataannya berbanding terbalik dengan kondisi alam yang semakin rusak. Salah satu contoh sederhananya adalah kadar CO2 yang makin meningkat yang menjadi akar masalah yang masih kita hadapi yaitu perubahan iklim yang drastis.
Kemudian muncullah sebuah gagasan oleh Elon Musk yang mana ia merencanakan bagi umat manusia untuk membangun kehidupan baru di tempat lain yaitu di mars. Yang jadi pertanyaan besar di sini adalah ini semua tentang manusia. Jika ditinjau lagi pada dasarnya manusia adalah khalifah dan harus menjalankan sesuai dengan perannya. Semestinya manusia yang harus menjaga alam sehingga masih dapat terjaga untuk generasi berikutnya.
Dari berbagai kasus diatas dimulai dari kerusakan alam, pandemi, perubahan iklim Apakah semua ini terjadi karena adanya diskoneksi antara manusia alam dengan spiritualisme atau agama? Ternyata hal tersebut sudah dijelaskan dalam QS Ar-rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa semua kerusakan yang ada di darat dan laut tidak lain disebabkan karena perbuatan tangan manusia itu sendiri.
Dapat kita lihat bahwa sains berkembang sangat pesat sedangkan local wisdom atau kearifan lokal tertinggal dan bahkan tertatih-tatih di belakang. Padahal pada awalnya sains berjalan bersama filsafat dan berkembang bersama-sama. Bagi manusia perkembangan sains itu tidak terbatas dan selalu membuka peluang untuk dijelajahi lebih lanjut sehingga hal tersebut meningkatkan rasa keingintahuan manusia dan sebagai perwujudannya adalah pengembangan ilmu sains.
Pada akhirnya masing-masing disiplin ilmu harus saling berdialog untuk menciptakan sebuah trans disiplin bagi perkembangan sains masa depan. Upaya tersebut dilakukan juga sebagai bentuk usaha menjaga identitas dan juga membuka ruang dialog lebih lebar. Ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri dan terisolasi tanpa membuka diri begitu juga dengan ilmu sains.
Topik yang diberikan Prof. Nadirsyah Hosen yaitu studi agama di era pandemi. Secara psikologi ada perasaan umat islam yang kalah total dalam masalah iptek dari dunia barat, jadi ada kecenderungan bahwa kita mengglorifikasi masa lalu di mana dulu kita aja yang mendominasi dunia dimana umat Islam melahirkan para raksasa ilmu. Namun kemudian kita lihat umat islam terseok-seok dan akses ilmu terbatas, akibatnya maka muncul dua sikap ekstrem itu yang pertama tadi sudah dijelaskan oleh satu titik pada kecenderungan untuk melakukan Islamisasi iptek, disisi lain berikutnya ada kecenderungan sains murni tanpa nilai etis tetapi posisi UIN Sunan Kalijaga ini interkoneksi dan integrasi tadi itu meskipun outcomenya belum jelas.
Apakah agamawan, kyai, dosen dan seterusnya itu harus memahami bahwa untuk kemudian sejauh mana belajarnya sampai bisa melakukan apa yang disebut dengan interkoneksi dan integrasi. Tidakkah akhirnya waktu mereka terbuang percuma menjadi setengah-setengah jadi dalam arti dibandingkan dengan mereka yang belajar sains dan teknologi di univ umum kalah jauh karena mata kuliah itu disibukkan dengan belajar agama, mereka tidak sempat mengeksplor lebih jauh hal-hal yang justru menjadi sebuah kemewahan bagi para mahasiswa sains di univ umum.
Kalau ke belakang sejarah para Raksasa ini misalnya ibnu sina juga seorang dokter tapi juga seorang ahli filsafat juga seorang ahli kitab. Jadi satu orang bisa menguasai beberapa disiplin ilmu. Kalau dari fakultas syariah dia hanya terbatas pada ilmu agama seperti tafsir-tafsir, fiqih, dll. Dengan semangat agama yang begitu menyala-nyala, para saintis yang belajar dari univ umum yang belajar melalui halaqoh sehingga menjadi kritikan pembelajarnnya akan seperti konflik-konflik palestina bukan buku-buku sains, ekonomi dsb akibatnya akan muncul gerakan fundamentalisme.
Kalangan saintis banyak belajar agama justru dari majelis taklim, halaqoh, pengajian, bukan dari lembaga formal. Sementara kalangan agamawan justru belajar ilmu-ilmu di luar agama itu secara serius belajar di kampus. Sejauh mana agama membutuhkan sains, dalam era covid membuka cara kita kedok agama, ketika keluar fatwa umat islam bahwa tidak perlu sholat jumat di masjid zona hitam, banyak para kyai menolak padahal ilmu sains berkata bahwa sangat berbahaya namun disanggah dengan banyak rujukan agama bahwa masjid tempat yang aman dan suci. Artinya ialah bahwa banyak yang lebih percaya kepada teks keagamaan dari pada bukti-bukti sains.
Pada kesempatannya Dr. Nita Handayani menyampaikan terkait data sains dalam dunia medis, sains medis dan neurosains. Saat ini kita sedang menuju pada era society 5.0 di mana saat ini masyarakat diminta untuk dapat memanfaatkan hasil inovasi dari revolusi industri untuk meningkatkan taraf hidup manusia secara berkelanjutan. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi seperti artificial intelegent, data sains, robotic yang nantinya akan dimanfaatkan dalam bidang lainnya seperti kesehatan ekonomi dan lain sebagainya.
Contoh kasusnya adalah di negara Jepang yang menjadi masalah adalah rasio usia penduduk produktif yang lebih sedikit dibandingkan dengan usia penduduk lansia. Hal ini menjadi tugas besar bagi negara Jepang untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Sehingga diperlukan solusi terobosan-terobosan baru yang melibatkan sains sehingga dapat memudahkan kehidupan berkelanjutan masyarakat. Contohnya adalah base data rekam medis kesehatan, teknologi robotik dalam kesehatan contohnya rongent untuk menghasilkan citra medis. Sedangkan berbagai bidang yang melibatkan peran data sains diantaranya Genetic & Genomic, data management, drug discovery, virtual assistance, predictive analysis, image analysis.