Kuliah Umum Perdana Prodi Sainsbiomedis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta “Perkembangan Ilmu Medis Terkini”.
Selain peluncuran Program Studi Sains Biomedis pada 26 Agustus 2024, UIN Sunan Kalijaga juga mengadakan kuliah umum bertema "Perkembangan Ilmu Medis Terkini" yang menghadirkan Prof.Dr.Mae Sri Hartati Wahyuningsih, M.Si., Apt dari Universitas Gadjah Mada sebagai narasumber utama. Prof. Mae, yang sebelumnya terlibat dalam proses review kurikulum Sains Biomedis UIN Sunan Kalijaga, memberikan wawasan mendalam tentang perkembangan terbaru dalam ilmu medis.
Di awal Prof Mae menyampaikan peluang karir dari lulusan sains biomedis bisa di industri farmasi dan bioteknologi, bekerja di rumah sakit, menjadi tenaga analis dsb.
Sebagai salah satu pakar di bidang farmasi dan pengembangan obat, Prof. Mae berbagi wawasan mengenai berbagai inovasi dan tantangan dalam proses penemuan dan pengembangan obat, khususnya yang berbasis bahan alam. Prof Mae menyampaikan pengembangan senyawa obat yang berasal dari bahan alam menjadi potensi yang bagus karena saat ini pemanfaatn obat sintesis mengandung banyak efek samping. Biomedis gabungan dari cabang beberapa ilmu yakni kedokteran, kimia dan biologi terkait penemuan senyawa untuk penyakit baru.
Prof. Mae juga menekankan pentingnya pemahaman tentang fenomena makhluk hidup dari tingkat sel hingga organisme, terutama yang berkaitan dengan penyakit, baik dalam hal pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan. Ia menambahkan bahwa Sains Biomedis dapat berfokus pada pengembangan obat modern maupun tradisional, yang keduanya memiliki kontribusi penting dalam dunia medis.
Dalam proses pengembangan obat, Prof. Mae menjelaskan tahapan mulai dari studi empiris yang dilakukan oleh nenek moyang, kemudian berlanjut ke studi preklinis (in vitro dan in vivo), standardisasi, pengembangan formula sediaan, hingga studi klinis. Desain obat modern biasanya diawali dengan identifikasi bahan alam, yang kemudian dikembangkan menjadi lead compound dan akhirnya menjadi obat yang siap digunakan, sebuah proses yang memakan waktu cukup panjang.
Prof. Mae juga menyoroti pentingnya pengujian sumber daya alam, preparasi bahan baku, studi preklinis yang meliputi uji toksisitas akut, subkronik, dan spesifik, serta studi klinis yang terdiri dari beberapa fase. Menurutnya, informasi tentang senyawa yang terkandung dalam bahan alam serta jumlahnya harus diketahui secara detail agar dapat diterima oleh dunia medis, khususnya dokter.
Sebagai contoh studi, Prof. Mae mengulas penelitiannya tentang senyawa antikanker dari tanaman. Proses penelitian dimulai dengan mengekstraksi senyawa dari tanaman menggunakan senyawa polar dan non-polar, diikuti dengan fraksinasi bertahap dan analisis menggunakan instrumen canggih. Uji MTT kemudian dilakukan pada berbagai lini sel kanker untuk menilai potensinya. Sebelum itu, molecular docking dilakukan untuk memprediksi interaksi senyawa dengan target protein, dilanjutkan dengan studi ekspresi gen penyandi protein target.
Dalam konteks regulasi, Prof. Mae menyebutkan bahwa penambahan zat aktif pada obat tradisional, seperti dalam Traditional Chinese Medicine (TCM), di beberapa negara telah legal dan teregulasi. Namun, berbeda dengan BPOM di Indonesia yang belum melegalkan penambahan zat aktif tersebut karena masih kurangnya kesiapan sumber daya manusia, yang bisa berpotensi menyebabkan penyalahgunaan.
Kuliah umum ini memberikan wawasan yang mendalam bagi para mahasiswa dan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga tentang berbagai aspek dan tantangan dalam pengembangan obat, serta membuka peluang diskusi lebih lanjut tentang integrasi antara ilmu sains biomedis dengan pengembangan teknologi dan inovasi dalam dunia medis.