Bedah Karya Aktual Biolaska Hadirkan Empat Pembicara yang Super Keren di Bidangnya

Tanggal 12-13 September 2022 menjadi kenangan tersendiri bagi BIOLASKA. Setelah melaksanakan Seminar Hasil Ekspedisi Aksara Tilu pada tanggal 12 September, keesokan harinya dilanjutkan dengan Bedah Karya Aktual. Dalam acara tersebut juga diadakan Expo EIDU yang diisi dan dimeriahkan oleh stand-stand Kelompok Studi di Yogyakarta yaitu Kelompok Studi Botanika UIN Sunan Kalijaga, Kelompok Studi Odonata Universitas Negeri Yogyakarta, dan Kelompok Studi Biologi Universitas Atmajaya.

Bedah Karya Aktual dilaksanakan pada tanggal 13 September 2022 di ruang teatrikal FST UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini mengangkat tema "Rekam Jejak Penjelajahan BIOLASKA Menggali Keanekaragaman Hayati Tanah Jawa". Bedah Karya Aktual dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, umum, dan juga dihadiri para pelajar dari SMA 4 Yogyakarta.

Secara teknis, Bedah Karya Aktual dibagi menjadi dua sesi. Masing-masing sesi diisi dengan membedah dua buah karya BIOLASKA. Sebelum dibedah oleh para pembahas, perwakilan dari penulis buku menjelaskan terlebih dahulu profil dan identitas buku. Penjelasan diberikan mulai dari latar belakang penulisan buku sampai isi buku.


Bedah Karya Sesi 1 dan Bedah Karya Sesi 2

Sesi pertama dimoderatori oleh Dwi Ariya Gunawan, Mahasiswa Biologi UIN Sunan Kalijaga. Buku pertama yang dibedah adalah Biodiversitas Pulau Bawean. Buku ini merupakan output Ekspedisi Baladewa BIOLASKA yang memuat tentang lima taksa, yaitu, herpetofauna, burung, capung, kupu-kupu, dan anggrek. Siti Aisah M.Si. yang merupakan dosen Biologi UIN Sunan Kalijaga menjadi pembahas dari buku ini. Bu Aisah menyarankan untuk menambahkan informasi klasifikasi dan kapan waktu perjumpaan dengan individu yang ditemukan. Apakah individu tersebut ditemukan pada siang atau kah malam hari.

Menurut Bu Aisah buku ini dilengkapi dengan foto-foto yang eye catching. Beberapa di antaranya dijumpai foto burung saat terbang dan foto capung sedang tandem atau bereproduksi. Informasi tentang anggrek disajikan dengan menambahkan keterangan habitat (epifit atau terestrial). Semua taksa tersebut dicantumkan status IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dan juga CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada taksa burung. Sementara itu, kebanyakan buku pada umumnya hanya memuat karakter morfologi tanpa mencantumkan status IUCN.

Buku kedua yang dibedah berjudul Kekayaaan Hayati Masyarakat Hutan Wonosadi: Tumbuhan Obat dan Pangan. Buku ini berisi 81 spesies tumbuhan dengan deskripsi masing-masing spesies beserta potensi pemanfaatanya. Pembahas buku ini ialah Irfan Rosyadi S.Si. yang merupakan Wakil Direktur Yayasan Kanopi Indonesia. Dari keseluruhan isi buku, Pak Irfan berharap ada bagian tumbuhan tertentu yang difokuskan untuk di foto. Misalkan bagian pemanfaatanya di bagian daun, maka diperlukan foto-foto daun yang lebih jelas daripada foto tumbuhan bagian lain. Menurut Pak Irfan, buku ini menarik karena tema yang diangkat bagus. Buku ini mengusung konsep etnobiologi, suatu disiplin ilmu dalam biologi yang sekaligus menjelaskan kajian budaya masyarakat setempat. Dalam hal ini, buku tersebut menyajikan nama lokal tiap spesies tumbuhan. Pak Irfan menilai buku ini cocok dibaca anak SMA yang tertarik pada keanekaragaman hayati karena isinya tidak terlalu berat.

Alifah, siswi SMA 4 Yogyakarta, mengatakan bahwa kedua buku tersebut luar biasa. Sementara siswi yang lain, Sari, menuturkan bahwa buku tersebut bermakna dan bermanfaat untuk pelajar SMA yang akan belajar Biologi. Ibu Endang, pembimbing ekstrakulikuler jurnalistik SMA 4 Yogyakarta memberikan tiga kata untuk buku itu, "menginspirasi, cerdas, dan bernalar".

Setelah selesai pembahasan dua karya pada sesi pertama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Kemudian acara dilanjutkan dengan Bedah Karya sesi kedua. Sesi ini dimoderatori oleh Meilani Sa'adah, mahasiswa Biologi UIN Sunan Kalijaga. Buku ketiga yang dibedah ialah Panduan Lapangan Amfibi dan Reptil di Kawasan Ekowisata Desa Jatimulyo. Buku yang disusun saat awal-awal pandemi Covid-19 ini dibahas oleh Dwi Agustiyana, seorang praktisi herpetofauna Yogyakarta. Menurut Mas Tio -sapaan akrabnya- buku tersebut sangat lengkap untuk mengenalkan herpetofauna. Buku ini akan lebih baik jika dilengkapi dengan cara penanggulangan gigitan ular dan turut dicantumkan letak koordinat spesies yang ditemukan. Meskipun begitu, buku ini berencana akan dijadikan panduan di Sungai Mudal pada Sekolah Sungai karena sudah memuat informasi morfologi yang lengkap.

Selanjutnya, karya keempat merupakan sebuah booklet berjudul Capung dan Kupu-Kupu Kawasan Karst Menoreh Kulon Progo. Booklet ini dibahas oleh Diagal Wisnu P., S.Si. yang merupakan Ketua Indonesia Dragonfly Society. Pak Diagal berpendapat bahwa buku tersebut sudah lengkap sehingga bisa digunakan untuk belajar jenis-jenis capung dan kupu-kupu.

Jika Sobat Konservasi berminat memiliki Buku dan Booklet karya BIOLASKA tersebut dapat hubungi Wikan (+6281357742195) atau melalui DM instagram @biolaska. Pre Order Buku dan Booklet tersedia sampai tanggal 30 September 2022 ya! ^-^

Salam Bahagia,

Jurlaska.