Best Practice Sistem Penjaminan Mutu Internal di Fakultas Sains dan Teknologi

Yogyakarta - Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menerima beberapa tamu dari Bimbingan Masyarakat Katolik terkait pelatihan auditor Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) PTK Katolik

“Harapannya, kami mau mengejar ketertinggalan di Saintek. Harapannya manfaatkan momen ini sebaik-baiknya dan diusahakan ada yang dibawa di perguruan tinggi masing-masing,” ujar Dirjen Dikti Katolik dalam sambutannya pada rapat tersebut, Rabu (11/05/2022).

Rapat tersebut juga memaparkan awal perjalanan-perjalanan akreditasi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari awal mulai berdiri hingga bisa mendapatkan akreditasi unggul, seperti yang disampaikan oleh Ibu Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Saintek, “Perjalanan prodi kami bagaimana kita meningkatkan progres akreditasi. Beberapa prodi sudah berstatus unggul, prodi 71% status unggul. Fak Saintek sudah implementasi MBKM sejak Tahun 2021/2022, mitra dalam negeri dan luar negeri, ada pertukaran mahasiswa di perguruan tinggi,” ucap Ibu Wadek di sesi pemaparan.

Menurut beliau, setiap tahun diadakan evaluasi. Ada evaluasi dari dosen, prodi, dan selanjutnya dikoordinasikan di level fakultas. Yang tidak kalah penting adalah SOP. SOP layanan akademik di saat pandemi juga menyesuaikan. Evaluasi dilakukan secara button up. Fakultas menyelenggarakan kegiatan diskusi ilmiah di samping kegiatan evaluasi. Tema diskusi ilmiah berupa kajian sains dan teknologi, halal, hilirisasi produk hasil penelitian, dll.

Dalam pemaparan mengenai Pengendalian Sistem Mutu Fakultas (PSMF), menurut UIN Sunan Kalijaga terlebih Fakultas Saintek, Ibu Dwi Agustina memaparkan bahwasannya dalam PSMF terdapat 5 aspek penting, yaitu penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan (PPEPP). Dalam poin evaluasi sendiri memiliki subpoin, yaitu evaluasi money, evaluasi AME, evaluasi AMI, dan terakhir adalah Rapat Tinjauan Manajemen (RTM).

Ketika sesi tanya jawab berlangsung, terdapat pertanyaan yang menarik dari saudara Eko Paul dari NTT. Beliau menanyakan bagaimana cara membuat prodi baru, sedangkan hanya memiliki 1 prodi yang memiliki akreditasi C. “Utamakan sumber daya manusia, pengalaman kami sudah membuat proposal 5 prodi baru. Dari 5 prodi tersebut tidak tersedia SDM yang cukup. Dari 5 menjadi 2 dengan pertimbangan dari sisi SDM sudah tersedia. Benchmarking kurikulum ke PT lain. Pengajuan harus ada ciri khas. Dalam menganalisis dengan mempertimbangkan prodi sejenis di kota yang sama. Jangan buat dengan prodi yang sudah jenuh. Sarpras harus menyiapkan selain SDM adalah kurikulum,” jawab Wakil Dekan Bidang Akademik dalam sesi tanya jawab tersebut.

Penulis: Moh. Akhyarul Mukhibin