PPBI ke-VIII

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) VIII 2018

Pengamatan burung atau birdwatching, merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh semua kalangan usia. Kini kegiatan pengamatan burung telah dikembangkan menjadi kegiatan ekowisata yang sudah populer di dunia. Sejak tahun 2007, para mengamat burung di Indonesia telah mengadakan Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) secara rutin setiap tahunnya . Kegiatan pertemuan ini dilakukan dalam rangka pengumpulan database kekayaan burung-burung di Indonesia dan diskusi seputar perkembangan perburungan di Indonesia.

Pada tahun 2018, acara PPBI yang ke-VIII berlangsung di Yogyakarta pada hari Jumat – Minggu, 2-4 November 2018 dengan tema “Merajut Avitourisme Indonesia”. PPBI ke-VIII ini diselenggaraikan oleh Paguyupan Pengamat Burung Jogja (PPBJ) yang terdiri dari beberapa komunitas burung di Jogja. Anggota PPBJ terdiri dari Bionic UNY, Biolaska UIN, Binobio UAD, BSC UAD, KP3 UGM, KSSL UGM, KSB Atmajaya, Matalabiogama UGM, dan Silvagama UGM.

Acara PPBI tahun ini, terdiri dari serangkaian acara seperti seminar dan pengamatan burung. Sementara pesertanya terdiri dari komunitas-komunitas burung di Indonesia yang berjumlah 110 orang. Acara seminar berlangsung pada hari Jumat, 2 November 2018 di Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Acara seminar dihadiri oleh Ir. Ignatius Pramana Yuda, M. Si., PhD, selaku Presiden Indonesian Ornithologist’s Union (IdOU) dan Dr. Hj. Maizer Said Nahdi, M.Si dan Dr. Arifah Khusnuryani, S. Si., M. Si. selaku dosen pembimbing komunitas Biolaska UIN.

Pada acara seminar terdiri dari tiga materi yang terdiri dari “ Kiprah Pengamat Burung di Indonesia” oleh Dr. Karyadi Baskoro, “Pelaku Usaha Avitourisme” oleh Politarius dan materi “Pengembangan Avitourisme di Indonesia oleh Valentina Shita Prativi dan Benny Membrasar. Acara seminar ditutup dengan pemberian buku burung Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ke masing-masing komunitas dan instansi sekolah yang mengikuti PPBI.

Acara selanjutnya adalah pengamatan dan diskusi-diskusi mengenai burung dan avitourisme yang dilaksanakan di Dusun Girimulyo, Desa Jatimulyo, Kulon Progo. Pengamatan burung dilakukan di Desa Jatimulyo karena Desa Jatimulyo memiliki keanekaragaman burung yang tinggi dan telah menjadi desa ramah burung melalui Perdes No. 6 tahun 2014. Hal ini dapat dijadikan contoh langsung bagi peserta mengenai avitourisme. Selama pengamatan, peserta menggunakan aplikasi burungnesia untuk memudahkan pendataan. Beberapa burung yang didapat selama pengamatan adalah pelanduk semak, pijantung kecil, cabai bunga api, cucak kuning,pelanduk topi hitam, burung madu jawa, cipoh kacat, cinenen pisang, kedasi hitam, kancilan bakau, bondol jawa, walet linchi, kadalan birah, madu kelapa, madu sriganti, elang ular bido, alap-alap sapi dan raja udang punggung merah. Meskipun, yang terdata saat pengamatan hanya sekitar 19 jenis, masih banyak burung-burung Jatimulyo yang belum terdata selama pengamatan. Hal ini bisa disebabkan karena cuaca yang kurang mendudung (mendung), pengamat yang kurang jeli melihat lingkungan sekitar, atau dikarenakan burung yang belum terdata memang sedang tidak berada dilokasi pengamatan. Desa Jatimulyo dapat dijadikan sebagai desa avitourisme dikarenakan masyarakat desa Jatimulyo bersedia menjaga tanaman-tanaman yang menjadi habitat dan makanan burung tetap terjaga, adanya koordinasi antar masyarakat agar segera melaporkan ke pengurus setempat apabila melihat adanya pemburu burung, larangan untuk memelihara dan membudidayakan burung-burung yang dilindungi, serta mendukung tersedianya obyek wisata tanpa merusak lingkungan. Selama di Jatimulyo, peserta PPBI juga mendapat kesempatan untuk mencoba makanan khas Jatimulyo seperti dawet sambel dan geblek yang disajikan pada saat acara diskusi. Selain itu, peserta juga bisa mencoba kopi Sulingan yang merupakan kopi hasil olahan masyarakat Girimulyo.

Melalui acara pengamatan burung ini, secara tidak langsung kita bisa mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar agar burung-burung tetap lestari dan memberitahukan ke masyarakat bahwa melihat burung secara langsung di alam lebih menyenangkan. Hasil foto burung yang di alam juga lebih indah daripada bila di foto di dalam kandang. Dari segi pendidikan, jenis-jenis burung yang beranekaragam di alam dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa. Siswa dapat mempelajari jenis-jenis burung beserta diskripsi singkat mengenai ciri-ciri khusus yang dimiliki masing-masing burung. Melalui pengamatan langsung di alam, diharapkan siswa dapat lebih memahami materi mengenai keanekaragaman burung. (Nur Hanifah Widiastuti/FST)