Stadium General Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2020

Titik Temu Agama dan Sains: Membingkai Interkoneksi Keilmuan yang Moderat

Rangkaian kegiatan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta diakhiri oleh kegiatan Stadium General yang dilaksanakan pada Kamis, 8 Oktober 2020, dengan mengundang Dr.Zainal Abidin Bagir, MA (ICRS UGM Yogyakarta) sebagai pembicara.

Pembahasan yang dibawakan Dr.Zainal Abidin Bagir, MA pada acara Stadium General Mahasiswa Baru 2020 ini bertema “Titik Temu Agama dan Sains: Membingkai Interkoneksi Keilmuan yang Moderat” tidak jauh dari latar belakang pendidikan beliau. Dr.Zainal Abidin Bagir, MA adalah lulusan Prodi Matematika (ITB, 1992), kemudian beliau melanjutkan studi magisternya di Islamic philosophy and science (International Institute of Islamic Thought and Civilization, ISTAC, Kuala Lumpur, 1994), dan mendapatkan gelar doktoral di Department of History and Philosophy of Science (Indiana University).

Agenda “Sains dan Agama” bergantung pada pandangan tujuan dan apa yang ingin dicapai. Hal tersebut dapat dilihat dari sudut pandang ontologi/teori, epistimologi/sumber pengetahuan, etika, dan otoritasnya.

Banyak pemaknaan dari integrasi atara agama dan sains yang dapat dikaji dari berbagai perspektif. Ibrahim Kalin mengkajinya dari perspektif etika, epistimologi, dan metafisis. Sedangkan Nidhal Guessoum mengatakan bahwa pendekatan epistimologi yang ingin membangun islamisasi ilmu adalah sebuah hal yang tidak produktif atau tidak menghasilkan penemuan baru. Menurutnya bukan dengan cara membuat Islamic Sains untuk membuat Islam dan Sains terintegrasi, tetapi lebih menekankan pada personalnya. Jika seseorang yang mempelajari sains memiliki pengetahuan agama yang baik, maka ia akan secara otomatis mengintegrasikan agama dan sains dalam dirinya sendiri. Kemudian selain itu Nidhal Guessoum juga berpendapat bahwa I’jaz/tafsir ilmi, juga tidak produktif karena kebanyakan hanya mencocokan penemuan orang lain dengan ayat-ayat Al-Quran dan tidak menghasilkan penemuan baru.

Dari pemaparan Dr.Zainal Abidin Bagir, MA dapat disimpulkan bahwa integrasi agama dan sains amat bergantung pada pemahaman seseorang/personal mengenai masing-masing komponen. Jika seseorang tersebut sudah memiliki pengetahuan sains yang sangat baik dan pengetahuan agama yang sangat baik juga, maka integrasi atara agama dan sains akan terjadi dengan sendirinya tanpa harus dibuat islamisasi sains atau semacamnya.

Berita Terkait