Kamis, 15 Juni 2017 13:57:10 WIB Dilihat : 70 kali

Dr. Muqowim mengatakan, satu-satunya pribadi yang sempurna, yang bisa dicontoh umat Islam agar bisa menjadi pribadi yang hebat adalah Pribadi Rasulullah Muhammad SAW. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW adalah pemilik pribadi yang Agung, Mulia dan Sempurna. Hadis dari Abu Hurairah R.A. menyebutkan: ???? ???? ???? ???? ?????? – sesungguhnya aku (Rasulullah) diutus Allah SWT semata-mata untuk memyempurnakan akhlak yang baik (HR. Al-Bayhagi dalam al-Sunah al-Kubra). Dan ternyata siapa saja yang bisa mencontoh pribadi Rasul, ia akan bisa menjadi motivator untuk yang lain. Salah satunya adalah Ibrahim Alfidi, berkebangsaan Mesir. Awalnya Ibrahim Alfidi adalah bukan siapa-siapa. Tetapi karena sikap kesehariannya yang berupaya mencontoh akhlak Rasul, ia sekarang menjadi pemain tennis meja yang terkenal sekaligus pengusaha sukses yang memiliki beberapa pusat studi dan banyak hotel berbintang di Kanada. Ia juga memilik 23 gelar sarjana dan beberapa gelar Doktor dari California.

Hal tersebut disampaikan Dr. Muqowim dalam forum “Hikmah Ramadhan” yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknologi, bertempat di Meeting Room, Laboratorium Terpadu, kampus setempat, Jum’at, 9/6/17. Lebih lanjut Dr. Muqowim menyampaikan, Kesuksesan hidup Ibrahim Alfidi ditulis dalam buku karya-karyanya, yang sampai saat ini telah melahirkan 5 karya buku. Di salah satu bukunya yang berjudul “Personal Power,” Ibrahim Alfidi bercerita bagaimana membumikan Islam yang Rahmatan Lil Alamin dan diterima semua kalangan sebagai sikap hidup sehari-hari. Buku ini bercerita bagaimana Ibrahim Alfidi, melakukan apapun dalam kehidupannya dengan mencontoh karakter Rasul. Dari apa yang ia lakukan, dirangkumlah menjadi 7 kekuatan personal yang ia terapkan dan bisa diterapkan siapa saja untuk bisa menjadi pribadi yang sukses dan hebat, sekaligus menjadi pribadi yang disenangi lingkunganya.

7 kekuatan personal tersebut adalah: Kesadaran, tujuan, keyakinan, cinta, positif thingking, konsentrasi, pengambilan keputusan. Yang pertama adalah kesadaran. Kesadaran menjadi penuntun ketika kita mau melangkah. Tanpa kesadaran menjadikan langkah kita tidak memiliki kepastian orientasi. Dengan kesadaran hati dan pikiran kita, lahir dan batin kita, terlibat penuh, sehingga kita melangkah dengan kebahagiaan dan semangat. Seperti pada shalat, bila tanpa kesadaran, shalat kita dicela Allah SWT. Dengan kesadaran Shalat kita akan mendapatkan ridla dari Allah SWT. Maka dalam melangkahpun, bila dengan kesadaran akan mendapat Ridla dari Allah SWT.

Yang kedua adalah tujuan yang jelas. Dengan tujuan yang jelas, akan memperbaiki langkah dari apa yang telah kita lakukan kemarin. Dengan tujuan yang jelas, proses learning dan re-learning (menyerap pengetahuan dan pengalaman) menjadi pasti. Renungkan apa yang telah kita lakukan kemarin untuk memperbaiki langkah selanjutnya dan untuk memperbaiki hati dan pikiran kita menjadi lebih baik.

Renungkan apa yang belum maksimal kita lakukan, untuk re-learning dan re-konstruksi. Rencanakan apa yang akan kita lakukan ke depan disertai kontemplasi untuk berbuat yang terbaik. Apapun profesi/pekerjaan kita, bila disertai niat untuk berbuat yang terbaik, maka apa yang kita lakukan akan banyak memberi kebaikan kepada orang lain.

Yang ketiga adalah keyakinan. Keyakinan yang kuat akan bisa memastikan langkah. Ada satu penelitian yang menunjukkan tentang prosentasi kesuksesan seseorang yang dipengaruhi oleh kekuatan keyakinan. Prosentase ukuran kesuksesan itu adalah: 3 % orang yang sangat sukses, 10 % orang sukses, 60 % orang cukup sukses, dan 27 % orang tidak sukses. 3 % orang yang sangat sukses adalah orang-orang yang punya mimpi (cita-cita) yang jelas dan meyakinkan, dan cita-citanya ditulis, menyusun rencana dan menentukan langkah-langkah yang jelas dan memperjuangkannya dengan gigih. 10 % orang sukses adalah orang-orang yang memiliki mimpi / cita –cita yang jelas tetapi tidak ditulias. 60 % orang cukup sukses adalah orang-orang yang mimpi/cita-citanya berubah-ubah. 27 % orang yang tidak sukses adalah orang-orang yang tidak jelas cita-citanya, dan tidak jelas tujuan hidupnya.

Tujuan dan langkah adalah bagian dari do’a. Disebutkan dalam Q.S. Ar-Ruum (30) ayat 6: Dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.Sesungguhnya siapa saja yang melakukan usaha dengan kesabaran dan kepasrahan kepada Allah SWT, pasti akan menuai hasilnya. Oleh karena itu, agar menjadi orang yang hebat, setiap saat hendaknya termotivasi melakukan usaha-usaha dengan langkah yang jelas dan yakin bahwa apa yang kita usahakan akan berhasil. Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua diatur oleh Allah SWT dan ketentuan Allah SWT tergantung dari usaha yang kita lakukan. Maka ubahlah pandangan dari melihat baru yakin ke yakinlah akan melihat hasilnya. Keyakinan juga akan membuat kita melangkah lebih pasti.

Yang ke empat adalah positif tangking. Dari Abu Hurairah R.A. Rasulullah bersabda, Firman Allah : ????? ?????? ????? ??????? ??? (Muttafaqun Alaih): Aku seperti yang disangkakan hambaku. Maka hendaklah kita Qusnudhon kepada Allah SWT / berpandangan yang positif kepada Allah SWT. Yang kelima adalah konsentrasi dengan melakukan usaha-usaha secara mandiri. Karena bukan orang lain yang akan mengubah diri kita. Tetapi Diri kitalah yang akan merubah diri kita sendiri. Maka jika kita punya mimpi, rencanakan dengan matang untuk mewujudkan mimpi kita itu. Lakukan usaha-usaha dengan kesabaran, gigih, pantang menyerah, serta keyakinan bahwa Allah akan membukakan jalan untuk terwujudnya mimpi/cita-cita kita. Demikian antara lain, pengalaman pribadi Ibrahim Alfidi yang ditularkan kepada semua orang, agar bisa menyusulnya menjadi orang-orang hebat, bisa meberikan manfaat untuk banyak orang dan bahagia hidupnya lahir dan batin, sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan di akherat kelak.

Apa yang ditularkan oleh Ibrahim Alfidi sesungguhnya adalah wujud Akhlak Islami/Akhlaqul Kharimah, yang terpancar sempurna dalam kepribadian Rasulullah. Jika kita menauladani dengan baik, dengan menerapkannya dalam sikap hidup sehari-hari, sesungguhnya akan banyak memberikan manfaat bagi kehidupan dan membawa kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akherat, demikian jelas Dr. Muqowim (Weni Hidayati-Humas Saintek).

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom