Jumat, 12 Mei 2017 12:47:23 WIB Dilihat : 27 kali

Jumlah pengangguran per tahun di DIY cenderung fluktuatif. Dari data 2011 hingga 2015, pengangguran sempat turun pada tahun 2012 dan 2013. Data Disnakertrans DIY, tahun 2013 jumlah penganggur sebanyak 63.172. Tahun 2014 naik menjadi 67.418, dan tahun 2015 menyentuh angka 80.245 orang dan tahun 2016 77.413 penganggur. Sementara dari jumlah tersebut, angka penganggur dari pendidikan sarjana terus meningkat. Dari data jumlah penggangguran terbuka ini, lulusan sarjana menempati posisi kedua setelah pengangguran lulusan SMU/SMK dan yang sederajad. Dari tahun 2013 hingga tahun 2015 terjadi penambahan jumlah penganggur, berturut-turut 10.805, 12.825, 14.482 (Data BPS DIY).

Menurut Kepala Bidang Penempatan dan perluasan Kerja, Elly Supriyanti, data jumlah penganggur sarjana tersebut hanya yang ber-KTP DIY. Untuk yang ber-KTP luar DIY tapi tinggal di DIY tidak terdata. Data lowongan kerja di wilayah DIY terus menurun. Tahun 2011 24.208 lowongan terdaftar. Tahun 2015 hanya ada 10.520 lowongan saja.

Direktur ECC UGM (Pusat Informasi dan Pengembangan Karier Fak. Teknik UGM), Nurhadi mengatakan, saat ini jumlah pengangguran terus meningkat dan tidak berbanding lurus dengan kesempatan kerja yang ada. Menurut Nurhadi, lulusan Perguruan Tinggi Yogya sebenarnya diminati perusahaan. Permasalahan sesungguhnya adalah gap kualitas antara kebutuhan dunia kerja dan lulusan. ECC UGM merupakan salah satu pengembangan karier yang berpengaruh di Yogytakarta bahkan Indonesia.

Menurut Nurhadi dari kondisi pengelolaan ECC bisa disampaikan, persaingan dunia kerja saat ini cukup tinggi. Jumlah lowongan kerja yang dikelola ECC selalu diserbu ratusan ribu pelamar. Selama tahun 2016 terdapat 646.625 pelamar online untuk 1.731 lowongan online. Itu artinya 1 posisi lowongan yang dibuka dilamar 374 orang/pelamar. Dari jumlah lowongan yang ada, hanya 157 saja yang penempatannya di Yogya. Meskipun begitu, tidak jarang perusahaan hanya menemukan satu, bahkan tidak menemukan kandidat sama sekali untuk mengisi satu posisi. Artinya; pelamar tidak memiliki kompetensi seperti yang disyaratkan perusahaan. Sementara, banyaknya lulusan Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yang setelah lulus tetap bertahan melanjutkan mencari kerja di Yogyakarta ditengarai karena sudah merasa nyaman hidup di Yogyakarta.

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Wuryadi berpendapat, ada kecenderungan ada kelebihan lulusan pada bidang-bidang tertentu, baik di tingkat SMA/SMK dan universitas. Hal ini membuat banyak lulusan tidak terserap lapangan kerja. Di sisi lain ada bidang bidang tertentu yang justru masih membutuhkan banyak formasi, tetapi tidak tercukupi oleh lulusan bidang tertentu. Maka Ketenagakerjaan perlu diskusi panjang dengan pendidikan formal, agar kuota penerimaan siswa dan mahasiswa bisa lebih match dengan kebutuhan ketenagakerjaan. Hal ini untuk menekan semakin tingginya pengangguran. Kalau tidak macth, pendidikan hanya menghasilkan yang tidak terserap. Hal ini sebenarnya sudah menjadi pemikiran sejak tahun 2000-an. Bahwa seluruh lembaga pendidikan seharusnya melakukan orientasi kembali program-program yang diselenggarakan dan kurikulum yang menghasilkan outcome lulusan yang matang, yang sesuai dengan orientasi lapangan kerja. Prof. Wuryadi berharap, semua perguruan tinggi di wilayah DIY tidak lagi hanya memacu sekedar banyaknya lulusan saja, tetapi benar-benar menggodok semua mahasiswanya sehingga bisa lulus dengan kualitas bagus, sesuai yang dipersyaratkan ketenagakerjaan.

Perguruan Tinggi Perlu Bekali Mahasiswa, pengalaman dan jiwa kewirausahaan pada Bidang Keilmuannya

Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans DIY, Elly Supriyanti menyampaikan, Semakin sempitnya peluang bekerja di sektor formal karena tingginya angka pencari kerja dan kecilnya jumlah lowongan, membuat perlu adanya perluasan peluang kerja baru. Seperti mendorong munculnya wirausahawan-wirausahawan baru. Sehingga ketergantungan terhadap sektor formal bisa berkurang. Kementerian ketenagakerjaan bertugas menfasilitasi pelatihan, stimulan bantuan, biar lulusan SMU/SMK dan sarjana tidak tergantung lagi pada sektor formal.

Sementara itu, tanggungjawab perguruan tinggi adalah memberikan pelatihan-pelatihan kewirausahaan kepada semua mahasiswanya, agar yang bisa berkembang menjadi wirausahawan, berkembang sejak masih kuliah, begitu lulus rintisan usahanya sudah jadi. Perguruan Tinggi juga perlu terus membuka jaringan kerjasama dengan dinas instansi terkait, swasta dan kalangan perusahaan untuk ikut peduli memberikan pendampingan kepada mahasiswa atau menginkubasi.

Di sisi lain, sebenarnya ada potensi-potensi besar yang juga menjanjikan penghidupan yang baik, yakni sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Selama ini sektor UMKM masih dipandang sebelah mata oleh lulusan sarjana. Padahal sektor ini menyerap tenaga kerja paling banyak dan bisa berkembang dengan suntikan SDM lulusan sarjana yang sesungguhnya lebih kreatif dan berwawasan lebih luas. Tentunya bila mereka mau terjun ke UMKM, akan mampu lebih mengembangkan UMKM. Dengan kata lain, UMKM sesungguhnya juga menjanjikan masa depan karier bagi para lulusan sarjana, demikian papar Elly (Weni Hidayati-Humas Saintek)

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom