Selasa, 21 Juni 2016 14:00:18 WIB Dilihat : 488 kali

Hidup di era yang penuh dengan permasalahan saat ini, diperlukan kekuatan jiwa, agar kita bisa mensikapi setiap permasalahan dengan damai. Puasa, lebih-lebih puasa ramadhan, diharapkan bisa menjadi sarana untuk melatih kesadaran jiwa dan meningkatkan kualitas jiwa kita. Jika puasa kita berhasil, kita akan bisa selalu berdamai dalam menghadapi setiap permasalahan dan tantangan yang ada saat ini. Damai berarti tidak ada konflik. Peace in challenges – damai dalam menghadapi setiap permasalahan dan tantangan melalui self control. Jika dalam jiwa kita masih ada konflik, itu berarti ada banyak kepentingan yang menyelimuti jiwa kita. Dan kepentingan-kepentingan yang sifatnya duniawi itu dijadikan oleh Allah terasa Indah dan menggoda, jika kita tidak memiliki kekuatan jiwa (kualitas jiwa kita masih lemah). Misalnya keinginan menumpuk harta kekayaan, keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk menang, keinginan untuk meraih posisi atau jabatan dan sebagainya.

Seperti disebutkan dalam Q.S. Ali Imran 14, yang artinya: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda peliharaan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Kalau dalam diri kita sudah mencapai kesadaran jiwa, mesti tidak akan ada konflik, yang ada hanyalah jiwa yang hanya ingin dekat dengan Sang Khaliq, melalui cinta kasih tanpa syarat, semata-mata hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Implementasinya, cinta kasih kepada semua sesama, senang memberi, senang menolong, senang berbagi dan sebagainya. Kebanyakan kita masih pada taraf kesadaran senang ketika menerima, senang ketika meraih sesuatu, senang ketika memenangkan kompetisi dan sebagainya atau bisa disebut cinta dengan bersyarat. Dalam proses hidup hendaknya kita berproses pada cinta kepada Allah SWT, melalui syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji yang kita jalankan dengan sepenuh hati dan jiwa.

Jadi puasa ramadhan jika dijalankan dengan sepenuh hati dan jiwa, akan menjadi salah satu media untuk meraih kekuatan jiwa, untuk mencapai kualitas hidup yang penuh jiwa dengan ukuran iklas memberi, iklas melayani, sampai kepada iklas dalam segala hal untuk mencapai kebahagiaan yang bersumber dari dalam (jiwa kita).

Di dalam diri kita berlaku hukum kekekalan energi, yang berarti, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita melayani, maka akan semakin tinggi jiwa kita merasakan kebahagiaan. Semakin banyak kita mengharap untuk menerima, semakin tinggi kita berharap untuk memenangkan kompetisi, maka semakin besar pula kita merasakan kekurangan, sehingga kita menjadi orang yang rakus. Kita bisa menikmati kesenangan tetapi sesungguhnya tidak bahagia (jiwa kita gersang Kesenangan dunia yang tidak ada batasnya itu sesungguhnya justru akan membebani kita saat menghadap Allah SWT nanti. Oleh karena itu kesenangan dunia itu sejatinya tidak membahagiakan jiwa, yang membahagiakan adalah jiwa (hati) yang bersih. Hal ini sudah disebutkan dalam Q.S. Asy-Syu’ara 88-89 yang artinya: “Pada saatnya akan tiba..... yaitu pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Melalui puasa ramadhan akan meningkatkan kualitas jiwa. Jiwa kita akan semakin memiliki kekuatan. Kalau kekuatan jiwa sudah bisa kita raih, maka kita akan selalu bisa berdamai dengan jiwa kita, dalam mensikapi dan mengatasi setiap tantangan hidup yang ada. Dan kita akan merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan karena merasa selalu dekat dengan Allah SWT.

Jika kekuatan jiwa telah bisa kita raih, maka kita tidak akan terpengaruh oleh godaan kepentingan, sehingga kita akan menjadi orang yang kreatif dan produktif, dengan hati yang bersih tanpa tendensi kekuasaan, jabatan, pujian dan sebagainya. Ada 5 hal yang harus diperjuangan untuk memperoleh kekuatan jiwa, dan itu bisa kita raih memalui puasa. Ke 5 hal tersebut adalah: Damai, Cinta, bahagia, kuat dan murni. Ke 5 hal tersebut akan dapat diraih jika kita bisa mengendalikan dan mengontrol lima hal yang disebut lampiran, yakni : ego, marah, arogan, iri hati dan dengki.

Jika 5 hal lampiran (ego, marah, arogan, iri hati dan dengki) masih menyelimuti jiwa kita, itu berarti kita tidak memiliki kesadaran akan eksistensi Allah SWT. Karena sesungguhnya kita ini tidak memiliki apa – apa. Semua yang kita miliki semata-mata adalah milik Allah SWT yang dititipkan kepada kita. Untuk menguji sejauh mana kita bisa bersyukur. Apabila kita bisa mengendalikan 5 hal (ego, marah, arogan, iri hati dan dengki), maka akan diperoleh kualitas dan kesadaran jiwa yang tinggi. Itu berarti menjadi orang yang bejo, sebagai orang-orang yang beriman. Q.S. Ali Imron 139 sudah mengingatkan, yang artinya : “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajadnya), jika kamu orang beriman”.

Puasa ramadhan hakekatnya bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi tantangan untuk mengendalikan ego, marah, arogan, iri hati dan dengki. Jika tidak bisa mengendalikan 5 hal ini, puasa tidak akan bisa menjadi sarana untuk memperoleh 5 kekuatan jiwa (Damai, Cinta, bahagia, kuat dan murni), hanya memperoleh lapar dan dahaga saja. Oleh karena itu perlu disiplin tingkat tinggi. Diperlukan latihan terus-menerus dan bertingkat.

Sebagai gambaran, dalam menjalani hidup ini, terkadang kita dipenuhi banyak Illah (Tuhan) seperti: jabatan, uang, kekuasaan, pujian, penghargaan dan sebagainya, sampai sampai dalam hidup kita seperti mempertuhankan materi, jabatan ataupun kekuasaan. Sementara untuk menjadi pemenang/menjadi orang yang bejo, hendaknya hanya ada satu niat, hanya satu yang dipertaruhkan yakni semata-mata karena mencari ridla Allah SWT. Untuk membulatkan niat semata-mata mendambakan ridla Allah SWT, latihan secara bertingkat yang perlu dilakukan misalnya; dalam melaksanakan ibadah shalat, awalnya merasa kerana kewajiban, meningkat karena mengharap sesuatu dari Allah,yang pada akhirnya bisa diraih keadaan jiwa yang meniatkan shalat semata-mata karena panggilan, ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini berarti sudah diperoleh kesadaran dan kekuatan jiwa.

Gambaran lain : Bagaimana kita menempatkan harta, benda, jabatan dan sebagainya yang kita miliki. Jangan sampai kita menempatkan harta, benda, jabatan dan sebagainya yang kita miliki ke dalam hati. Jika itu terjadi, harta benda hanya akan menyuburkan sifat tinggi hati, iri hati dan sakit hati. Tempatkanlah harta, benda dan materi ataupun jabatan dan sebagainya yang kita miliki hanyalah sebagai sarana untuk memudahkan kita dalam berbuat kebaikan untuk mencari ridla Allah SWT. Jika itu bisa dilakukan, maka harta, benda, materi, jabatan dan sebagainya akan membawa kebahagiaan dunia dan akherat. Jika hilangpun semua harta benda yang kita miliki, tidak akan membuat sedih hati ataupun sakit hati, karena semua yang kita miliki hanyalah Titipan Allah.

Keadaan tingkat kekuatan jiwa (hati) kita itu juga tercermin dalam tubuh kita. Tubuh kita mau kemana itu dikendalikan oleh jiwa (hati) kita. Kalau jiwa kita kuat/baik maka akan baiklah tubuh kita, kalau jiwa kita lemah/buruk, maka lemah/buruk-lah tubuh kita.

Semoga puasa-puasa yang kita lakukan termasuk puasa ramadhan bisa menjadi madrasah untuk meraih kekuatan jiwa dan Taqwa bagi kita semua. Amin Ya Robbal Alamin.

Disampaikan oleh Dr. Muqowim dalam Tausyiah di hadapan pegawai dan dosen Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 17 Juni 2016. Ditulis kembali oleh Weni Hidayati-Humas Fakultas Saintek).

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom