Kamis, 16 Juni 2016 08:22:58 WIB Dilihat : 555 kali

Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional. Tak hanya moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), tetapi juga sekaligus kesalehan sosial.

Puasa memiliki dua semangat yang sangat baik dilihat dari perspektif pendidikan akhlak. Pertama semanagat pencegahan (kaffun wa tarkun) dari hal-hal yang destruktif (al-muhlikat) . Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual.

Lalu kedua, semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan (hatstsun wa ‘amalun) terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif atau dalam bahasa Imam Ghazali, dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manusia (hatstsun ila al-munjiyat). Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal. Pertama, orang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat-bathn).Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin. Orang yang tidak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain. Mungkin itu sebabnya, ketika Malaikat Jibril menawarkan kepada Rosulullah SAW kekayaan berlimpah (bukit emas), beliau menolaknya seraya berkata: “Biarlah aku kenyang sehari dan lapar sehari.”

Penting diketahui, Lapar itu ada dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan. Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan tak gampang disembuhkan. Puasa bisa menyembuhkan kedua macam lapar itu, sehingga kita bisa terbebas dari penyakit vested interest, untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kebutuhan orang lain (sosial).

Kedua, orang yang puasa disuruh banyak berderma. Rosul SAW menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Rosulullah SAW merupakan orang yang paling banyak berderma. Melebihi angin barat (HR. Hakim dari Aisyah).

Ketiga, pada penghujung puasa kita disuruh mengeluarkan zakat fitrah, di luar zakat mal. Kewajiban ini sekan melengkapi dimensi sosial puasa. Karena tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah SWT.

Di luar semua itu, puasa melatih dan mendidik kita agar menjadi manusia bermental giver (pemberi) bukan taker (peminta-minta). Orang puasa sejatinya sedang meneladani sifat Allah. Sejalan dengan doktrin “Takhallaqu bi aklaq Allah”. Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rosul Muhammad SAW juga demikian.

Maka orang yang berpuasa diminta meneruskan kasih sayang Allah dan Rosulullah kepada umat manusia. Dengan begitu, puasa membuat kita cerdas, baik secara moral, spiritual, maupun sosial. Dan inilah karakter orang yang Taqwa. Wallahu a’lam. (Materi- dari Republika dan berbagai sumber)

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom