Selasa, 23 Februari 2016 13:09:05 WIB Dilihat : 728 kali

Sesungguhnya al Qur’an itu menjadi pedoman hidup seluruh umat manusia. Bukan hanya umat Islam. Al Qur’an itu bisa menjadi penuntun semua umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat kelak. Maka handaklah al Qur’an itu dibaca, diresapi, dipahami maknanya, supaya bisa mengamalkan sebaik-baiknya.

Rosul Muhammad SAW telah mencontohkannya. Sepanjang hayat beliau tak pernah lepas dari mempelajari dan mendakwahkan ayat-ayat al Qur’an. Baik dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari maupun dalam menjalankan ritual shalat. Misalnya saat menjadi imam shalat, tidak jarang Rosul Muhammad melafalkan ayat-ayat yang panjang sampai selesai. Seperti Q.S. Al Bagarah atau Q.S. Ali Imron. Dan hanya kadang-kadang melafalkan surat-surat pendek. Hal ini dumaksudkan agar para sahabat Rosul yang selalu mengikuti shalat beliau terbiasa mendengarkan lafal surat-surat yang panjang. Dengan terbiasa mendengarkan akan memudahkan untuk membaca dan melafalkannya. Apabila tidak kesulitan dalam melafalkannya, akan memudahkan untuk memahami ketika mempelajari.

Kebiasaan Rosul tersebut hendaknya sampai sekarang tetap ditauladani dengan sesering mungkin melafalkan surat-surat yang panjang dalam al Qur’an, baik dalam bacaan shalat maupun dalam pengajian-pengajian. Agar kita semakin terbiasa dengan semua ayat dalam al Qur’an. Kebanyakan kita hanya terbiasa dengan surat-surat dalam al Qur’an yang pendek-pendek saja.

Di jaman yang serba instan sekarang ini, yang segalanya begitu tergantung dengan teknologi informasi, yng dianggap memberi kemudahan dalam segala hal, janganlah kita semakin jauh dari mempelajari al Qur’an. Tetaplah kita berpegang teguh pada al Qur’an dan jangan menyepelekan al Qur’an. Kita hendaknya tetap mencontoh kehidupan Rosul. Setiap hari berupaya untuk mempelajari al Qur’an, meskipun kita disibukkan oleh berbagai macam urusan yang menghabiskan waktu. Meskipun hanya satu ayat demi satu ayat. Namun jika terus menerus mempelajari dan mengamalkan sebisa mungkin sepanjang hayat, pastilah Allah SWT akan melihat apa yang kita lakukan.

Seberapa jauh upaya kita untuk menjadikan al Qur’an sebagai pedoman dan penuntun hidup. Seberapa jauh kita mempelajari dan mengamalkannya, Allah SWT akan menilai kita semua. Yang penting sepanjang hayat kita, terpakulah pada al Qur’an.

Allah SWT telah memerintahkan “Bacalah dengan Nama Tuhanmu dan Naiklah ke Yaumul Akhir”. Perintah ini bisa dimaknai bahwa Allah SWT telah memberi harapan dan janji bagi umatnya yang bisa terpaku pada al Qur’an. Sehingga Yaumul Akhir (Surga) pun bisa dimaknai bertingkat-tingkat, tergantung sejauh mana manusia terpaku dalam mempelajari dan mengamalkan al Qur’an.

Bagaimana mempelajari al Qur’an, Rosulullah telah memberi arahan “Pahami al Qur’an dengan Khamratul Tilawah (pahami, maknai dan amalkan), bukan hanya sekedar dibaca. Membaca al Qur’an memang dapat pahala, tetapi tanpa memahami dan mengamalkannya, al Qur’an tidak akan bisa menjadi petunjuk dan penuntun hidup. Al Qur’an sebagai Hudalil Muttaqin / Hudalil Naas ( Jika kita paham ayat-ayat al Qur’an kita akan mendapat petunjuk).

Al Bukhari meriwayatkan, Umar Bin Khatab pernah jatuh sakit dan tidak kunjung sembuh, karena rasa takutnya ketika memahami satu ayat dalam al Qur’an yang salah satu kalimatnya menyebutkan “Sesungguhnya Azab Allah itu pasti akan terjadi.” Ayat-ayat Allah dalam al Qur’an diantaranya memang berisi ancaman azab yang seharusnya membuat kita takut, was-was sehingga akan membawa kita berhati-hati dalam hidup. Harapan yang akan membuat kita menantikan kebahagian di akherat kelak. Kabar gembira bagi umat Nya yang mendapat petunjuk, sehingga seharusnya kita berupaya keras memahami dan mengamalkan ayat-ayat al Qur’an agar kita termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah SWT.

Sepanjang hayatnya, Rosul Muhammad terus mengajak para sahabatnya untuk mendakwahkan al Qur’an. Maka sampai saat inipun setiap Muslim hendaknya mempelajari, mendakwahkan dan mengajarkan al Qur’an kepada sekeliling kita. Tinggi rendahnya derajad kita di antara manusia dan di sisi Allah SWT tergantung kedekatan kita dalam mengamalkan al Qur’an. Hal ini sudah dibuktikan pada masa hudup Rosulillah. Rosulullah dan sababat-sanabat belaui begitu dihormati dan disegani, karena keteguhannya pada al Qur’an.

Maka jika umat Islam ingin membangun peradaban yang jaya, seperti pda masa Rosulullah, yang begitu dihormati dan disegani umat lain, maka hendaknya semakin mendekat pada al Qur’an. Cintai, pelajari, pahami dan amalkan al Qur’an sebaik-baiknya, tidak sepotong-sepotong.

Kanapa umat Islam saat ini masih sering diremehkan oleh umat lain, karena sesungguhnya masih jauh dari mempelajari dan mengamalkan al Qur’an dengan sebaik-baiknya.

Disampaikan oleh : Ustad Deden Anjar Herdiansyah, M. Hum., dalam Kuliah Umum Program Pendampingan Keagamaan di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Sabtu, 20/2/1016. Ditulis kembali staf humas F. Saintek.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom