Sabtu, 1 Maret 2014 06:33:45 WIB Dilihat : 25765 kali

Menghilangkan Sifat Iri dengan Bersyukur.

Oleh Rifatul Indana, SE.I (Staff Keuangan Saintek)

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini telah menjadi suatu kebiasaan. Kalau kita termasuk orang yang suka mengeluh maka ketahuilah bahwa kebiasaan mengeluh tidak akan membuat situasi yang kita hadapi menjadi lebih baik, malahan hanya akan menguras energi dan menciptakan perasaan negatif yang tidak memberdayakan diri kita.

Salah satu perasaan negatif dari mengeluh yang akan timbul yaitu penyakit iri. Iri merupakan penyakit yang tidak senang akan rizki/rejeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya. Namun Iri yang diperbolehkan dalam Islam ada dua macam yaitu ingin menjadi orang yang kaya dengan hartanya untuk beramal atau bersedekah serta orang berilmu dan mangajarkannya kepada orang lain.

Ada kisah dari pemateri dulu semasa sekolah dan kuliah. Ketika MTs pernah merasa iri melihat teman sekelasnya yang kebetulan sering bersaing memperoleh peringkat dikelas. Pemateri berusaha menyaingi teman tersebut dengan belajar lebih giat dan lebih rajin dari biasanya, sampai akhirnya pada pengumuman hasil UAN, mendapatkan nilai akhir ujian tertinggi di sekolahnya. Pernah juga ketika ada teman kuliah yang berhasil mendapatkan beasiswa BU DIKTI pemateri merasa temannya lebih beruntung dan lebih sukses, membuat pemateri mengabaikan kenikmatan yang Allah berikan.

Dari cerita tersebut, dapat diambil dua pelajaran. Sisi positifnya dengan prestasi yang diaraih teman-teman sekolah atau kampus bisa memotivasi diri untuk lebih baik. Kedua segi negatifnya bisa muncul resah kemudian sifat iri karena tersaingi, jika penyakit ini tidak terkendali bisa mengalami putus asa bahkan depresi.

Jadi cara mengatasi sifat iri sebenarnya mudah, kita hanya perlu belajar bersyukur dalam segala keadaan yang kita hadapi. Percayalah bahwa di balik semua hal yang kita sering keluhkan pasti ada hal yang dapat disyukuri. Para ahli psikologi mengatakan "Sikap bersyukur adalah emosi yang tersehat".

Selain itu, seorang pakar stress bernama Hans Seyle juga berkata, "Sikap bersyukur menghasilkan energi emosional lebih daripada sikap yang lain dalam hidup ini". Yang menarik adalah kita selalu dapat memilih dalam setiap kejadian yang dihadapi apakah kita akan mengeluh kemudian iri atau bersyukur.

Menumbuhkan kesadaran diri bahwa kenikmatan itu pemberian Allah SWT, sehingga wajar apabila suatu saat Allah memberikan nikmat kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada diri kita. Sifat iri karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Dan kita perlu sadari bahwa hal ini akan terjadi hampir setiap hari dalam kehidupan entah di kantor atau rumah yaitu kenyataan yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kemudian menjalin persaudaraan dengan orang lain, akan memutus sifat sombong dalam diri. Ada orang-orang tertentu yang memang dalam lingkup sosial kurang peka, dan lebih mementingkan hak dirinya sendiri.Bersosialisasi antar rekan kerja akan menumbuhkan empati dan rasa sayang terhadap sesama, sehingga terhindar dari perasaan benci dan tidak senang apabila orang lain mendapatkan keberuntungan (kesenangan).

Mulai sekarang ambil waktu untuk bersyukur setiap hari. Bersyukurlah atas pekerjaan, kesehatan, keluarga atau apapun yang dapat kita syukuri. Bersyukurlah lebih banyak serta percaya diri maka hidup kita akan lebih mudah dan beruntungan. Kalau semakin banyak bersyukur atas apa yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang akan kita miliki untuk disyukuri. Tetapi, jika semakin banyak kita mengeluh dan iri kepada orang lain, maka jangan heran jika rasanya semakin banyak masalah yang kita alami untuk dirasakan.

(Red.Humas Saintek;Ch/Disarikan dari materi Breafing Senin 17 Februari 2014 )

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom