Jumat, 29 Desember 2017 08:37:53 WIB Dilihat : 72 kali

Era industri 4.0 dimulai tahun 2000. Era ini ditandai dengan banyaknya tenaga kerja yang digantikan dengan mesin-mesin otomatisasi. Maka tenaga kerja harus dialihkan dari tenaga trampil ke keahlian teknologi. Indonesia juga tidak terkecuali harus menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) ahli agar tidak terjadi banyak pengangguran di era revolusi industri ke empat ini. Mensikapi permasalahan ini Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menghadirkan dua orang ahli, yakni; Dr. Ing. Hendro Wicaksono. Alumni ITB yang studi lanjut di Jerman ini, saat ini menjadi Dosen dan Peneliti di Institute for Information Management in Engineering Karisruhe Institute of Technology (IIMEKIT) Germany. Yang kedua adalah; Budi Saksono, M.Sc., Ph.D., dari Recearch Center for Biotechnology LIPI.

Keduanya dikolaborasikan dalam forum Seminar Nasional bertajuk “Menyongsong Era Industri 4.0 melalui Sinergi akademisi, Industri dan Pemerintah, Sebuah Perspektif dari Jerman dan Biotechnologi Industri 4.0,” bertempat di gedung Prof. RHA. Soenarjo, 19/12/17. Di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga, hendro Wicaksono memaparkan, era industri 4.0 bisa diartikan sebagai era revolusi industri yang ke 4. Revolusi Industri pertama ditandai lahirnya mesin uap yang memacu berdirinya banyak pabrik sehingga sebagian besar masyarakat beralih dari bertani ke buruh pabrik. Kedua, ditandai dengan lahirnya teknologi listrik. Industri berkembang pesat dengan produksi massal melalui energi listrik. Ketiga, ditandai lahirnya mesin kontrol komputer. Keempat, ditandai lahirnya mesin terkoneksi digital, inilah yang disebut era industri 4.0. Konsekuensi era ini akan banyak profesi yang tidak berfungsi, jika tidak menyesuiakan keahliannya untuk bisa terkoneksi dengan cyber system.

Pada era ini sebagian besar produksi dan transaksi yang dilakukan manusia terkoneksi oleh sistem digital, yang diistilahkan Cyber Phisical System (CPS), Cyber Service, Cyber Object, Physical Objects. Di Jerman, Era ini disikapi dengan sinergi yang baik antara perguruan tinggi dan lembaga riset, industri, dan pemerintah. di IIMEKIT (tempat hendro bekerja), ada bagian yang fokus pada inovasi teknologi. Setiap ada penemuan baru segera dipatenkan. Saat ini konsen melakukan riset bidang pengembangan teknik informatika dan teknik industri. Kedua bidang ini telah melahirkan sedikitnya 55 inovasi yang berhasil dipatennya, berupa lisensi software dan desain produk industri. Banyak perusahaan besar di Jerman memanfaatkan Karya-karya inovasi IIMEKIT untuk melahirkan produk-produk kebutuhan pasar. IIMEKIT juga melakukan penyesuaiaan kurikulum (adaptasi trasformasi kualifikasi SDM) menyesuaikan kebutuhan industri 4.0. Sementara suport dari Pemerintah Jerman berupa suport dana maupun SDM pendamping (UMKM, IT Scuritas dan standarisasi arsitektur infrastuktur IT). Pemerintah Jerman juga menentukan prioritas pengembangan SDM, yang diarahkan pada pengembangan teknologi dan bisnis.

Dijelaskan, menyongsong era industri 4.0, Eropa dan Amerika sudah berlari, bagaimana dengan Indonesia? Menurut Hendro untuk bisa ikut berlari maka pengembangan SDM Indonesia hendaknya diarahkan pada upaya upaya memacu pengembangan UMKM, kemampuan networking dengan perusahaan-perusahaan besar, melakukan transformasi bisnis melalui IT, menggali kreatifitas dan inovasi layanan baru IT, memperbaiki organisasi bisnis dan penguasaan big data, pengembangan industri dengan layanannya (misal industri pesawat dengan jasa maintenancenya), integrasi IT di semua bidang, prosentase SDM ahli engineering dan penguasaan analisa data ditingkatkan.

Disamping itu dibutuhkan ahli-ahli TI yang mampu berkolaborasi lintas bidang, semangat belajar seumur hidup karena perubahan yang sangat cepat, memacu masyarakat memiliki jiwa interpreneurship dan berani mengambil resiko. Didukung pemerintahan yang memiliki kebijakan memaksimalkan potensi daerah. Sementara sistem belajar era industri 4.0 antara lain : online learning, ujian online, learning analytics, bahan ajar menyesuaikan latar belakang (profil) peserta didik, demikian papar Hendo.

Sementara itu Budi Saksono antara lain memaparkan tentang pentingnya mengembangkan industri bidang biotechnologi dalam rangka memanfaatkan secara maksimal sumber daya alam untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Menurut Budi, optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam Indonesia di bidang kesehatan/kedokteran, akan mampu mengubah pola pikir masyarakat. Dari bagaimana orang sakit berobat agar sehat, menjadi pola pikir ke arah bagaimana menjaga pola hidup dan pola makan agar tidak sakit.

Lebih jauh peneliti bidang biotechnologi LIPI ini memaparkan, berbagi riset yang dilakukan di LIPI membuktikan banyak tanaman di Indonesia bisa diproses untuk mencegah dan mengatasi obesitas, penyakit-penyakit degeneratif dan infeksi, dengan mengkosumsi ekstrak tumbuhan (herbal) pada periode tertentu atau sebagai makanan/minuman yang menyehatkan. Pihaknya juga banyak melakukan riset pemanfaatan mikroba untuk mempercepat proses pembuatan produk ekstrak yang bermanfaat untuk memperbaiki metabolisme manusia, agar tidak gampang sakit. Produk-produk hasil riset biotechnologi sebelum siap dikonsumsi masyarakat, diujicoba dulu pada mencit, dilihat reaksi dan ada tidaknya efek samping. Kalau terbukti aman dan menyehatkan baru diproses produksi untuk masyarakat.

Dijelaskan, saat ini sudah banyak produk-produk industri biotechnologi sebagai pengembangan hasil riset, yang sudah dipasarkan dan terbukti memperbaiki pola makan dan kesehatan masyarakat. Secara medis memang belum ada riset tentang hubungan antara mengkonsumsi produk-produk biotechnologi dengan kesembuhan suatu penyakit. Tetapi melalui pengamatan secara umum memperlihatkan bahwa ekstrak tanaman, baik berupa suplemen makanan maupun minuman kesehatan membuat potensi sehat lebih besar. Harganyapun tidak memberatkan masyarakat. Sebagai gambaran misalnya, berapa beaya untuk mengatasi penyakit diabetes dengan melakukan suntik insulin yang sangat mahal. Untuk mengatasi beban beaya penyakit diabetes maka dikembangkan herbal insulin.

Masih banyak hasil proses biotechnologi yang bermanfaat untuk memperbaiki derajat kesehatan masyarakat, seperti bi-jelly, madu, probiotik, psicose dan lain-lain. Disamping itu masih banyak potensi Indonesia yang bisa dikembangkan menjadi industri biotechnologi. Hal ini disatu sisi akan banyak membuka lapangan pekerjaaan. Di sisi lain, membiasakan masyarakat Indonesia berpola hidup sehat. Pengembangan teknologi bio-informatika akan sangat membantu mentransformasikan masyarakat agar secapatnya memahami bidang biotechnologi dan manfaatnnya, baik dalam hal membuka lapangan pekerjaan dan percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, kata Budi Saksono.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama, Fakultas Sains dan Teknologi, Dr. Ja’far Luthfi mengharapkan, forum ini bisa membuka cakrawala berpikir dan menginspirasi para mahasiswanya untuk gampang puas dengan apa yang sudah dicapai (Wn).

Era industri 4.0 dimulai tahun 2000. Era ini ditandai dengan banyaknya tenaga kerja yang digantikan dengan mesin-mesin otomatisasi. Maka tenaga kerja harus dialihkan dari tenaga trampil ke keahlian teknologi. Indonesia juga tidak terkecuali harus menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) ahli agar tidak terjadi banyak pengangguran di era revolusi industri ke empat ini. Mensikapi permasalahan ini Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menghadirkan dua orang ahli, yakni; Dr. Ing. Hendro Wicaksono. Alumni ITB yang studi lanjut di Jerman ini, saat ini menjadi Dosen dan Peneliti di Institute for Information Management in Engineering Karisruhe Institute of Technology (IIMEKIT) Germany. Yang kedua adalah; Budi Saksono, M.Sc., Ph.D., dari Recearch Center for Biotechnology LIPI.

Keduanya dikolaborasikan dalam forum Seminar Nasional bertajuk “Menyongsong Era Industri 4.0 melalui Sinergi akademisi, Industri dan Pemerintah, Sebuah Perspektif dari Jerman dan Biotechnologi Industri 4.0,” bertempat di gedung Prof. RHA. Soenarjo, 19/12/17. Di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga, hendro Wicaksono memaparkan, era industri 4.0 bisa diartikan sebagai era revolusi industri yang ke 4. Revolusi Industri pertama ditandai lahirnya mesin uap yang memacu berdirinya banyak pabrik sehingga sebagian besar masyarakat beralih dari bertani ke buruh pabrik. Kedua, ditandai dengan lahirnya teknologi listrik. Industri berkembang pesat dengan produksi massal melalui energi listrik. Ketiga, ditandai lahirnya mesin kontrol komputer. Keempat, ditandai lahirnya mesin terkoneksi digital, inilah yang disebut era industri 4.0. Konsekuensi era ini akan banyak profesi yang tidak berfungsi, jika tidak menyesuiakan keahliannya untuk bisa terkoneksi dengan cyber system.

Pada era ini sebagian besar produksi dan transaksi yang dilakukan manusia terkoneksi oleh sistem digital, yang diistilahkan Cyber Phisical System (CPS), Cyber Service, Cyber Object, Physical Objects. Di Jerman, Era ini disikapi dengan sinergi yang baik antara perguruan tinggi dan lembaga riset, industri, dan pemerintah. di IIMEKIT (tempat hendro bekerja), ada bagian yang fokus pada inovasi teknologi. Setiap ada penemuan baru segera dipatenkan. Saat ini konsen melakukan riset bidang pengembangan teknik informatika dan teknik industri. Kedua bidang ini telah melahirkan sedikitnya 55 inovasi yang berhasil dipatennya, berupa lisensi software dan desain produk industri. Banyak perusahaan besar di Jerman memanfaatkan Karya-karya inovasi IIMEKIT untuk melahirkan produk-produk kebutuhan pasar. IIMEKIT juga melakukan penyesuaiaan kurikulum (adaptasi trasformasi kualifikasi SDM) menyesuaikan kebutuhan industri 4.0. Sementara suport dari Pemerintah Jerman berupa suport dana maupun SDM pendamping (UMKM, IT Scuritas dan standarisasi arsitektur infrastuktur IT). Pemerintah Jerman juga menentukan prioritas pengembangan SDM, yang diarahkan pada pengembangan teknologi dan bisnis.

Dijelaskan, menyongsong era industri 4.0, Eropa dan Amerika sudah berlari, bagaimana dengan Indonesia? Menurut Hendro untuk bisa ikut berlari maka pengembangan SDM Indonesia hendaknya diarahkan pada upaya upaya memacu pengembangan UMKM, kemampuan networking dengan perusahaan-perusahaan besar, melakukan transformasi bisnis melalui IT, menggali kreatifitas dan inovasi layanan baru IT, memperbaiki organisasi bisnis dan penguasaan big data, pengembangan industri dengan layanannya (misal industri pesawat dengan jasa maintenancenya), integrasi IT di semua bidang, prosentase SDM ahli engineering dan penguasaan analisa data ditingkatkan.

Disamping itu dibutuhkan ahli-ahli TI yang mampu berkolaborasi lintas bidang, semangat belajar seumur hidup karena perubahan yang sangat cepat, memacu masyarakat memiliki jiwa interpreneurship dan berani mengambil resiko. Didukung pemerintahan yang memiliki kebijakan memaksimalkan potensi daerah. Sementara sistem belajar era industri 4.0 antara lain : online learning, ujian online, learning analytics, bahan ajar menyesuaikan latar belakang (profil) peserta didik, demikian papar Hendo.

Sementara itu Budi Saksono antara lain memaparkan tentang pentingnya mengembangkan industri bidang biotechnologi dalam rangka memanfaatkan secara maksimal sumber daya alam untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Menurut Budi, optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam Indonesia di bidang kesehatan/kedokteran, akan mampu mengubah pola pikir masyarakat. Dari bagaimana orang sakit berobat agar sehat, menjadi pola pikir ke arah bagaimana menjaga pola hidup dan pola makan agar tidak sakit.

Lebih jauh peneliti bidang biotechnologi LIPI ini memaparkan, berbagi riset yang dilakukan di LIPI membuktikan banyak tanaman di Indonesia bisa diproses untuk mencegah dan mengatasi obesitas, penyakit-penyakit degeneratif dan infeksi, dengan mengkosumsi ekstrak tumbuhan (herbal) pada periode tertentu atau sebagai makanan/minuman yang menyehatkan. Pihaknya juga banyak melakukan riset pemanfaatan mikroba untuk mempercepat proses pembuatan produk ekstrak yang bermanfaat untuk memperbaiki metabolisme manusia, agar tidak gampang sakit. Produk-produk hasil riset biotechnologi sebelum siap dikonsumsi masyarakat, diujicoba dulu pada mencit, dilihat reaksi dan ada tidaknya efek samping. Kalau terbukti aman dan menyehatkan baru diproses produksi untuk masyarakat.

Dijelaskan, saat ini sudah banyak produk-produk industri biotechnologi sebagai pengembangan hasil riset, yang sudah dipasarkan dan terbukti memperbaiki pola makan dan kesehatan masyarakat. Secara medis memang belum ada riset tentang hubungan antara mengkonsumsi produk-produk biotechnologi dengan kesembuhan suatu penyakit. Tetapi melalui pengamatan secara umum memperlihatkan bahwa ekstrak tanaman, baik berupa suplemen makanan maupun minuman kesehatan membuat potensi sehat lebih besar. Harganyapun tidak memberatkan masyarakat. Sebagai gambaran misalnya, berapa beaya untuk mengatasi penyakit diabetes dengan melakukan suntik insulin yang sangat mahal. Untuk mengatasi beban beaya penyakit diabetes maka dikembangkan herbal insulin.

Masih banyak hasil proses biotechnologi yang bermanfaat untuk memperbaiki derajat kesehatan masyarakat, seperti bi-jelly, madu, probiotik, psicose dan lain-lain. Disamping itu masih banyak potensi Indonesia yang bisa dikembangkan menjadi industri biotechnologi. Hal ini disatu sisi akan banyak membuka lapangan pekerjaaan. Di sisi lain, membiasakan masyarakat Indonesia berpola hidup sehat. Pengembangan teknologi bio-informatika akan sangat membantu mentransformasikan masyarakat agar secapatnya memahami bidang biotechnologi dan manfaatnnya, baik dalam hal membuka lapangan pekerjaan dan percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, kata Budi Saksono.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan kerjasama, Fakultas Sains dan Teknologi, Dr. Ja’far Luthfi mengharapkan, forum ini bisa membuka cakrawala berpikir dan menginspirasi para mahasiswanya untuk gampang puas dengan apa yang sudah dicapai (Wn).

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom