Rabu, 19 April 2017 11:56:51 WIB Dilihat : 213 kali

Data dari Badan Pusat Statistik tahun 2015 menunjukkan dunia industri menyumbang sejumlah 8% dari total nilai tambah nasional. Dari 8% itu 99% berasal dari industri mikro dan kecil, sisanya dari industi sedang dan besar. Sementara profil pengusaha mikro dan kecil didominasi oleh SDM lulusan SD, SLTP dan SLTA dan hanya 2% saja profil pengusaha mikro dan kecil lulusan S1, S2 dan S3. Data tersebut menunjukkan masih adanya gap antara keahlian lulusan Prodi Teknik Industri dengan pengembangan dunia industri di Indonesia, sehingga lulusan Prodi Teknik Industri lebih banyak yang berkarya di luar bidang manufaktur.

Hal tersebut disampaikan Dosen Prodi Teknik Industri, Dr. Arya Wirabuana dalam Forum Diskusi Teknik Industri (TI Talk), bertempat di ruang Laboratorium Komputasi Industri, Jum’at, 7 April kemarin. Diskusi diikuti para mahasiswa, pranata laboratorium, dan para memerhati dunia industri. Diskusi juga dihadiri para Pranata Laboratorium Industri dari UGM. Lebih lanjut Dr. Arya memaparkan, banyak hal yang berakibat adanya gap antara pembelajaran teknik industri dengan bidang praktis industri/ manufaktur. Permasalahan itu diantaranya; perbedaan karakteristik dunia akademik dengan dunia praktis industri ( dunia akademik komoditasnya adalah pengetahuan, sifatnya non-profit, fokusnya pada attitute-behaviour, skill dasar,pola pikir, konseptual, penguasaan dan pengembangan ilmu. Dunia praktis industri komoditasnya produk-service-pasar, fokusnya profesional/mahir pada skill tertentu, fokusya perancangan dan pengembangan produk agar bisa selalu diterima pasar). Hal tersebut harus dipahami semua pihak agar tidak selalu menyalahkan dunia akademik.

Namun demikian, para dosen dan mahasiswa Prodi Teknik Industri hendaknya memahami karakteristik dunia akademik Teknik Industri dan kelemahan-kelemahannya, serta membuka diri untuk memahami dunia praktis industri/ manufaktur, agar bisa melahirkan lulusan yang lebih memungkinkan untuk terjun mandiri berinovasi dalam bidang industri/manufaktur.

Dijelaskan, dalam bidang akademik Teknik Industri, pembelajaran utama masih berkutat pada sistem manufaktur belum menyentuh bidang-bidang industri yang demikian beragam pada dunia modern ini. Berbagai pembelajaran kurang peka terhadap perubahan asumsi, case-base learning/problem based learning belum optimal, belum ada praktikum/pembelajaran tentang idustrial solution. Sementara permasalahan dalam dunia praktis Industri itu demikian kompleks, penuh resiko dan ketidakpastian yang memerlukan simulasi-simulasi dalam pembelajaran dan praktikum teknik industri.

Sementara, bidang akademik Teknik Industri juga perlu memahami bidang-bidang industri yang saat ini berkembang di Indonesia, yakni; industri pangan, pembangkit energi, kosmetik-farmasi-alat kesehatan,barang modal-komponen, bahan penolong-jasa industri, tekstil-kulit-alas kaki, hulu agro, alat transportasi, logam dasar dan bahan galian bukan logam, elektronika dan telamatika, kimia dasar berbasis migas dan batubara. Semua bidang industri yang berkembang ini memiliki karakteristik: ketidak pastian pasar, kompleksitas permasalahan, resiko yang semakin tinggi, tetapi adaftif dan fleksibel.

Menurut Arya, berbagai alternasif solusi yang bisa dilakukan, untuk menjembatani gap antara dunia akademik dengan dunia praktis industri/manufaktur agar semakin banyak alumni Prodi Teknik Industri yang memiliki tingkat keahlian yang memenuhi syarat untuk terjun memajukan dunia industri/manufaktur di negeri ini. Diantarannya; malaksanakan pembelajaran berbasis pemecahan problem-problem praktis, industrial attachment, KKN/KP industri, diterbitkannya sertifikat profesional, terus memupuk dan meningkatkan kerjasama triple helix antara pemerintah, dunia industri dan perguruan tinggi, pemberdayaan alumni (Weni Hidayati-Humas Saintek)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom