Rabu, 21 Januari 2015 20:44:58 WIB Dilihat : 3871 kali

Tasyakuran Akreditasi Prodi Fakultas Sains dan Teknologi

Untuk membangun bangsa tidak cukup dengan ilmu umum tapi perlu dengan ilmu agama. Karena Visi didirikan Pergurun Tinggi Agama sangat sederahan yaitu, menyiapkan ilmu agama bagi alumni SMA dan ilmu Umum bagi alumni MA. Di sinilah peran alumni UIN Sunan Kalijaga untuk membangun Indonesia tidak cukupdengan ilmu pengetahuan umum saja dan tidak pula dengan ilmu agama tradisional, tapi harus dua-duanya.

Demikian dikatakan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. H. Akh. Minhaji, Ph.D ketika memberi sambutan Tasyakuran Akreditasi Program Studi Fakultas Sains dan Teknologi, Selasa (20/1) kemarin di Convention Hall UIN Suka. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pejabat kampus UIN Sunan Kalijaga dan sivitas akademik fakultas Saintek, pegawai mutasi dan tamu keluarga besar fakultas Sains dan Teknologi.

Akreditasi bagi perguruan tinggi negeri ataupun swasta adalah nyawa. Karena mutu perguruan tinggi bahkan prodi atau jurusan merupakan cerminan dari totalitas keadaan dan karakteristik masukan, proses, keluaran, hasil, dan dampak, serta layanan atau kinerja program studi itu diukur berdasarkan sejumlah standar yang telah ditetapkan BAN-PT.

“ Fakultas Saintek sangat bersyukur, karena diantara dari 10 prodi sekarang 9 mendapat akreditas B dan 1 akreditas A. Pencapaian ini menjadi dasar dan modal untuk berkembang lebih jauh ke depan, sehingga kita mendapat derajat dan dapat menghasilkan alumni yang mampu berkompetisi di tempat lain” tutur Minhaji.

Berdasarkan SK BAN-PT dari 10 prodi di fakultas Sains dan Teknologi yang mendapat akreditasi B diantaranya Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Biologi, Teknik Informatika, Teknik Industri dan Pendidikan Kimia terakreditasi A.

Pada waktu yang sama diisi acara Spiritual Motivation Training oleh Ust. Puji Hartono, BBA Pengasuh Pesantren Masyarakat Jogja. Ia mengatakan model pendidikan di jawa diwarnaidengan rasa rumongso. Artinya, aja rumangsa bisa (jangan merasa bisa), nanging bisa rumangsa (tetapi bisa merasa). Merasa bisa adalah sifat tidak terpuji karena dinilai sebagai wujud kesombongan dan kebohongan. Sebab, hasil kerja orang seperti ini biasanya tidak sebaik dengan yang dijanjikannya. Sementara, dapat merasa atau menggunakan perasaan adalah sifat baik karena merupakan landasan sikap tenggang rasa antar sesama. (Ch/Humas ST)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom