Rabu, 2 Juli 2014 12:20:14 WIB Dilihat : 2368 kali

Munculnya teknologi modern seperti teropong bintang dan telescope, menjadikan ilmu perbintangan (astronomi) ataupun ilmu falak semakin berkembang serta perhitungan terkait posisi bulan dan matahari terhadap bumi kian tepat. Sehingga manusia bisa menentukan kapan terjadi seperti gerhana bulan dan gerhana matahari, serta perhitungan lain seperti perkiraan awal Puasa Ramadhan, tanggal 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri) maupun Hari Raya Idul Adha.

Untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut fakultas Sains dan Teknologi mengadakan seminar Pelatihan Hisab Rukyah bagi mahasiswa, Jum’at (27/6) kemarin. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari fakultas. Peserta mendapat materi dari Drs. H. Sofwan Jannah, M.Ag. (Pakar Hisab Rukyah Universitas Islam Indonesia Yogyakarta) dan Drs. Mutoha Arkanudin, M.A (Ketua Rukyatul Hilal Indonesia Cab. Yogyakarta) tanpa dipungut biaya.

Asih Melati, S.Si., M.Sc selaku ketua panitia mengatakan, acara ini dilandasi oleh keinginan kita bagaimana mempelajari dan memahami serta mengaplikasikan ilmu astronomi atau ilmu falak yang sudah dipelajari di bangku kuliah. Salah satunya untuk penentuan awal puasa dan 1 Syawal.

Drs. H. Sofwan Jannah, M.Ag. menjelaskan hisab berasal dari kata khasaba bermakna menghitung yaitu perhitungan secara matematis dan astronomi untuk mengetahui posisi bulan agar diketahui awal bulan menurut kalender hijriyah karena ada kaitannya dengan aktivitas ibadah.

Ia melanjutkan Rukyat, berasal dari kata ra a yaitu aktivitas mengamati visibilitas hilal (penampakan bulan sabit) pada saat sunset (matahari terbenam) setelah terjadi ijtimak (conjunction). “ Jika memungkinkan melihat hilal dapat dilakukan dengan mata telanjang, bisa juga dengan alat bantu optik seperti telescope, teropong bintang dan binokuler” kata Jannah.

Sementara itu, Mutoha Arkanudin mengungkapkan tahun ini bulan sudah di ketahui tapi tidak berhasil di rukyat, karena ketinggian dari Jogja 0,5 derajat. Dari sisi sains syarat untuk bisa dirukyat seharusnya di atas limit duwjohn yaitu dengan ketinggian 7 derajat. Dan data ini bisa di peroleh menggunakan softwere seperti Ephemeris Hisab Rukyat, Stellarium, Winhisab atau metode konvensional lainnya.

Lanjut Muntoha, program komputer ini sangat membantu para ahli falak di Indonesia dalam melakukan perhitungan arah kiblat, awal waktu salat, dan awal bulan kamariah.” Dengan demikian jelas tidak ada kesamaan kapan awal 1 Ramadhan” tutur Muntoha saat memandu mahasiswa Saintek di POB Syeh Bela-Belu.

Di akhir penjelasannya, walau ada perbedaan awal Ramadhan, untuk hari raya tahun ini 2014 akan jatuh pada tanggal yang sama 28 Juli 2014, sekali lagi kita harus menghormati.(humas ST/ch)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom